Kriteria Pemimpin Nias Barat, Oleh Mustika Ranto Gulo
KRITERIA BUPATI DI NIAS, HARUS BERORIENTASI PELAYANAN

Mustika Ranto Gulo
Nias Barat, yang mayoritas 99,8% berpenduduk Nasrani itu, merindukan seorang pemimpin yang beorientasi seorang “PELAYAN TUHAN” yang memiliki visi dan misi kesejahteraan manusia bukan dirinya sendiri.
Dalam Kitab Injil Markus 10:44 – 45 “dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Ada 5 Faktor Mengapa ada kerinduan seperti ini?
- Kemiskinan semakin meluas, pasca gempa dan hengkangnya BRR dari Nias sejak awal 2009, telah meninggalkan bom waktu yang sangat mematikan bagi masyarakat. Penghasilan dari sektor pertanian sebagai basis pendapatan tidak mendukung lagi (saya akan menjelaskan kemudian, bahwa dirindukan seorang Pemimpin yang takut akan Tuhan yang profesional dalam meningkatkan pendapatan per kapita).
- Politik Kotor telah merasut dalam kehidupan rakyat Nias. Bayangkan saja dalam ajang Pemilihan Kepala Desa saja, terjadi permainan kotor dengan main suap apalagi pada ajang pemilihan DPRD atau Pilkada yang tentu merupakan hal yang dinanti-nanti. Politik Uang adalah mendatangkan kutuk TUHAN (saya akan menjelaskan kemudian, bahwa dirindukan seorang Pemimpin yang takut akan Tuhan, yang membuktikan diri tidak main kotor pada PILKADA nanti).
- Cara Hidup Malas, mengakibatkan orang berfantasi ingin kaya dengan mendadak dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Misalnya menyogok agar bisa menang dalam proses ujian masuk PNS. Dengan harapan nanti uang sogokan itu bisa kembali, dengan cara mencari peluang untuk korupsi. Minimal tujuannya untuk kerja santai (kerja atau tidak) ada gaji tiap bulan. Lingakaran kemiskinan karena pola pikir yang salah (saya akan menjelaskan kemudian, bahwa dirindukan seorang Pemimpin yang takut akan Tuhan yang bekerja keras dan mampu mensosialisakan / mempresetasikan HIDUP KUDUS)
- Nilai-nilai kekristenan sudah luntur, bahwa sebagai masyarakat yang mayoritas Nasrani, seharusnya menjadi SAKSI HIDUP dan hidupnya harus berdasarkan FIRMAN TUHAN. Hidup seperti ini “dinomorsatukan”, namun betapa menyedihkan keadaan Rohani yang sangat lemah, telah membuat masyarakat kita sulit membedakan mana yang pantas dilakukan oleh seorang Nasrani dan mana yang tidak. Dirindukan pemimpin yang takut akan Tuhan seseorang yang beorientasi PELAYAN TUHAN.
- Pendidikan adalah pintu gerbang kesejahteraan masyarakat, dirindukan seorang HAMBA TUHAN yang berorientasi kepada “PENGABDIAN HIDUP UNTUK PENDIDIKAN”, sebagai bukti yang nyata bahwa pemimpin seperti ini bersedia memberikan estafet masa depan Nias Barat kepada generasi berikutnya.
Baca kriteria Pemimpin yang diharapkan di Nias Barat adalah
http://niasbarat.wordpress.com/2007/10/15/kriteria-pemimpin-ideal-versi-kristiani/
Saya Mustika Ranto Gulo

Bos jangan hnaya wacana …membangun Nias barat, harus pulang …nimbrung…apa iya ? kita tinggalkan semua bisnis kita di perantauan….mau jadi miskin di Nias ? or sebaliknya pasti terpengaruh untuk KKN /.. smoga tdk Pak
Yth Pak Ranto (nara Sumber)
saya, ada masukan mengenai topik ini, :
adalah
I. Masyarakat Nias sudah berada pada titik kulminasi yaitu titik pada kondisi putus asa atas sikulus pemerintah di Nias pada umumnya. Permainan politik kotor ada dua sisi “orientasi uang dan uang serta uang” karena itu jika teman2 disekitarnya tidak dapat bagian maka “digoyang dengan cara kotor juga” dan cari-cari kesalahan/kelemahan” serta “maling teriak maling”.
Saya berdoa mendukung tulisan anda ini jika benar2 bisa tanpil seorang hamba Tuhan untuk memimpin Nias dimasa yang akan datang.
Doa kami
F Waruwu, SPd
“Dalam Kitab Injil Markus 10:44 – 45
“dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.””
Bicara mengenai “Kriteria Pemimpin Masa Depan” sangat sulit rasanya, kenapa tidak? Karena kehidupan birokrasi telah sekian lama dipisahkan dari kehidupan ROHANI. Ada yang memberi nasihat seperti ini “jangan sebut-sebut ayat Alkitab dalam pembicaraan ini”. Saya tidak tahu alasan apa yang membuat kita menjadi munafik yang memisahkan iman percaya kita dengan dunia sekuler. Seakan-akan dunia kita ada dua, seakan-akan ada dua penampilan wajah kita.