Orwel S. Gulo, M.Th. Sangat Terbeban Untuk Pulang Ke Nias Barat
Jakarta, 01 Pebruari 2010

Pdt Orwel Swastika Gulo, MTh, "Aku Ingin Pulang"
“Aku Ingin Pulang” bukan judul lagu, tapi ini sebuah doa yang sungguh-sungguh digumuli. Aku ingin pulang ke Nias Barat, jika Tuhan kehendaki.
Saya lahir di Hiliwaele, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Ulu Moro,o, asli putra daerah Nias Barat. “Terbeban untuk pulang, namun alasannya harus logic, bukan karena didorong oleh perasaan semata, atau emosi karena melihat penderitaan yang sangat memprihatinkan di Nias”. Namun “karena sejuta ide yang perlu diuji sejalan dengan waktu, bersarang dalam otak saya yang sederhana ini. Sangat besar dorongan ini bukan hanya sekedar beban biasa, tetapi sebuah panggilan. Intinya bagaimana cara mengabdi untuk memulai sesuatu yang baru bagi masyarakat Nias Barat yang haus dan sangat rindu sekali akan perubahan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan.
Putra Kelahiran Nias pada tanggal 29 Maret 1964 ini, anak dari pasangan RS. Gulo (Ama Asa Gulo) dan Norida (Ina asa Gulo). Menyerahkan diri untuk melayani Tuhan sejak tahun 1985 untuk meresponi panggilan Tuhan.
Saya menikah dengan Angela Irma Wirayadi, SE pada tahun 1995 dan dikaruniai tiga orang anak: Denise Gabriella, Matthew Manwell dan Darryl Nathanael.
Mungkin saja, saya tidak sehebat putra Nias yang lain, jika ikut dalam bursa Pemimpin (Bupati atau Wakil Bupati di Nias Barat), namun sungguh saya ingin nama TUHAN dimuliakan dan diagungkan dalam setiap tindakan saya kalau memang ada kesempatan untuk pulang. “ini Janji Iman, berat tanggung jawabnya”. Semoga tantangan dan kerinduan masyrakat dapat terobati, jika menghendaki sebuah perubahan drastis dalam birokrasi pemerintahan, seperti daerah lainnya. Kita belajar dari Kabupaten di Pulau Mentawai yang dipimpin oleh seorang Pendeta dari GBI, sangat luar biasa, mampu melakukan perubahan yang sangat baik, dan masrakat pun terhindar dari keterpurukan dari semua lini kehidupan.
Sekalipun saya masih tercatat sebagai mahasiswa di STII Jakarta untuk program S3, sejak Januari 2010 lalu, tidak menjadi penghalang untuk serius pulang ke kampung halaman Nias Barat jika Tuhan kehendaki.
Semua ini bisa berjalan, jika ada kebersamaan, sebuah kepercayaan dan keyakinan yang kuat. Saya sadari, jika memungkinkan masuk dalam ranah politik resikonya sangat tinggi, namun semua itu dapat berjalan jika Tuhan menyertai kita. Saya butuh dukungan saudara seiman, kasih dan ketulusan yang bisa membuat saya lebih berani melangkah.
Akhir kata : “Emanuel…Tuhan beserta kita, saya yakin bahwa semua ini akan teruji sejalan dengan waktu, saya datang bukan untuk bersaing dengan siapapun, sebab masih banyak putra Nias yang tentu lebih baik dari saya, tetap saya tetap hormat kepada mereka dan jika pun kesempatan kali belum berpihak pada saya, saya mendoakan siapapun nantinya yang memimpin Nias Barat, semoga diberkati Tuhan”.
Orwel S. Gulo, M.Th

Iraono Hili
Status :Mahasiswa (semester delapan)
Yth. Bapak Pdt Orwel S Gulo, M.Th.
Saya sangat bangga kepada Hamba Tuhan seperti ini dengan berani berkata: “BEBAN UNTUK PULANG KE NIAS”,,,!!
Karena kenapa,,,??
Tiga tahun yang lalu tepat tahun 2007, saya berbincang-bincang dengan teman-teman mahasiswa di Jakarta tentang tempat penitipan karya kedepan. Mereka lebih memilih dan berkarya di Jakarta, dari pada pulang kampung, Padahal mereka belum dapat pekerjaan Lho,,,! Tetapi Hamba Tuhan yang satu ini yang sudah lama berkarya di Jakarta Bapak Pdt. Orwel S Gulo, M.Th terbeban untuk pulang kampung.
Saya kenal beliau di Jakarta dengan cukup sukses menulis beberapa buku, mengajar diberbagai lembaga Institut dan sekolah Alkitab di Jakarta dan menjadi Pendeta di salah satu gereja yang ada di Indonesia.
Tentu kita sebagai masyarakat Nias Khususnya Nias Barat dengan bertanya-tanya, kenapa Pak Orwel S Gulo pulang kampung,,,??
Kalau saya menebak dan berani menjawab pertanyaan ini adalah, “KETULUSAN UNTUK MEMBANGUN NIAS BARAT” bukan dengan niat yang lain.
Saya sangat setuju, kalau ada diantara Hamba Tuhan terbeban untuk memimpin Nias Barat. karena beberapa pertimabangan sebagai berikut:
1. Taku akan Tuhan ada.
2. Mengenal dan mengerti perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah. Musuh masyarakat Nias Barat sekarang adalah Korupsi, memberi dan menerima suap yang disebut dengan perjuangan yang menghalalkan segala sesuatu, dan perbuatan-perbuatan asusila seperti perjinahan.
3. Mengandalkan Tuhan.
Maaf,,,saya tidak bermaksud untuk berkhotbah. tetapi, tidak ada salahnya kalau saya kutip salah satu ayat yang berbunyi, “Oleh sebab itu, pergilah Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau apa yang harus kau katakan” (kel. 4:12).
Intinya bahwa, orang yang mengandalkan Tuhan mempunyai ide-ide yang cemerlang dan mudah untuk dilakukan serta program yang terencana.
Akhir kata,Maaf,,,kalau ada yang tidak berkenan
tapi ini benar-benar kenyataan.
Selamat untuk Bapak orwel S Gulo, M.Th.
Semoga doa kami menyertai Bapak
Tuhan Yesus memberkati
Status :Mahasiswa (semester delapan)
Yth. Bapak Pdt Orwel S Gulo, M.Th.
Saya sangat bangga kepada Hamba Tuhan seperti ini dengan berani berkata: “BEBAN UNTUK PULANG KE NIAS”,,,!!
Karena kenapa,,,??
Tiga tahun yang lalu tepat tahun 2007, saya berbincang-bincang dengan teman-teman mahasiswa di Jakarta tentang tempat penitipan karya kedepan. Mereka lebih memilih dan berkarya di Jakarta, dari pada pulang kampung, Padahal mereka belum dapat pekerjaan Lho,,,! Tetapi Hamba Tuhan yang satu ini yang sudah lama berkarya di Jakarta Bapak Pdt. Orwel S Gulo, M.Th terbeban untuk pulang kampung.
Saya kenal beliau di Jakarta dengan cukup sukses menulis beberapa buku, mengajar diberbagai lembaga Institut dan sekolah Alkitab di Jakarta dan menjadi Pendeta di salah satu gereja yang ada di Indonesia.
Tentu kita sebagai masyarakat Nias Khususnya Nias Barat dengan bertanya-tanya, kenapa Pak Orwel S Gulo pulang kampung,,,??
Kalau saya menebak dan berani menjawab pertanyaan ini adalah, “KETULUSAN UNTUK MEMBANGUN NIAS BARAT” bukan dengan niat yang lain.
Saya sangat setuju, kalau ada diantara Hamba Tuhan terbeban untuk memimpin Nias Barat. karena beberapa pertimabangan sebagai berikut:
1. Taku akan Tuhan ada.
2. Mengenal dan mengerti perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah. Musuh masyarakat Nias Barat sekarang adalah Korupsi, memberi dan menerima suap yang disebut dengan perjuangan yang menghalalkan segala sesuatu, dan perbuatan-perbuatan asusila seperti perjinahan.
3. Mengandalkan Tuhan.
Maaf,,,saya tidak bermaksud untuk berkhotbah. tetapi, tidak ada salahnya kalau saya kutip salah satu ayat yang berbunyi, “Oleh sebab itu, pergilah Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau apa yang harus kau katakan” (kel. 4:12).
Intinya bahwa, orang yang mengandalkan Tuhan mempunyai ide-ide yang cemerlang dan mudah untuk dilakukan serta program yang terencana.
Akhir kata,Maaf,,,kalau ada yang tidak berkenan
tapi ini benar-benar kenyataan.
Selamat untuk Bapak orwel S Gulo, M.Th.
Semoga doa kami menyertai Bapak
Tuhan Yesus memberkati
Salom pak Pdt
Trims u beban mbngun daerah kita, semngt terbuka dan gentelmen sprti ini yg kita hrpkan dari ono niha yg akan memmpin nantinya.
saya doakan bpk, harus berani dan jgn takut dikecewakn nantinya, artinya kita tetap melayani TUHAN….amin
Obed
Doa kami menyertai bapak Pendeta, bisa saja ada yg akan terganggu.
hormat kami untuk ononiha yg beroprestasi.
GBU
Yth. Pak Pendeta Orwel
Saya bangga dari satu sisi, mlht keberanian anda kali ini bener2 luar biasa, namun saya perlu menyumbang pemikiran agar bisa dipertimbangkan:
1. Tidak cukup dengan hanya keberanian semata dan mengatakan ini sebuah pelayanan (tak masalah kita bisa beda sedikit ya?). Pulang ke Nias artinya anda masuk dalam kondisi yg tak pernah anda duga sebelumnya. Pak Pdt akan terkaget-kaget kalau sdh membaur dgn masyarakat, bhkn saya tidak yakin anda bisa bertahan. “Kalau bicara Tuhan Menolong” itu lain kata. Banyak yg histeris dan mereka menjadi sakit hati karena terjebak oleh pola hidup masyarakat. Yg semula memiliki visi yg baik membawa perubahan, malah dirinya yang berubah seperti lingkangan barunya yg fatal, perlu dipikirkan.
2. Bawa duit banyak2 pak Pdt, sorry saya tdk bermaksud menyarankan kejahatan, tetapi apapun yg anda lakukan saat ini di Nias Barat tdk ada yg gratis…semua harus bayar. Bicara ke siapapun harus bayar, ..ini pola pikir yg sdh rusak sedemikian parahnya ..karena budaya para politikus pada agenda demkrasi yg dulu-dulu sdh menerapkan duit dan duit…akhirnya jadi mata duitan. Ada istilah ’serangan fajar’ yg dilakukan oleh sdr kita untuk membeli suara rakyat, jadi jgn bicara ketulusan…hehehehe
3. Penguasaan medan perang di Nias Barat, satu sisi yg memusingkan anda. semua mengatakan ya atas pembicaraan dgn mereka tetapi dibelakang mereka mengatakn lain…pola politik berkhianat sangat membahayakan anda nantinya…jgn terjebak, semua org berpikir keuntungan. Anda bisa kena tipu oleh saudara dekat sekalipun. hehehehe..
cukup pak pdt, beberapa waktu lalu saya dgr khotbah bapak di Tangerang, cukup bagi saya untuk menilai betapa tulusnya anda. tetapi sekali lagi belum cukup…masih byk yg harus anda pelajari di Nias barat yang GANAS ….hehehe
mhn maaf kalau ada yg kurang berkenan.
Tuhan Memberkati.
F Daeli
Salom Pak Pendeta, saya baru tahu…pergumulan dan beban bapak, Ingat NEHEMIA? Menangisi kampung halamannya, dan akhirnya diutus pulang membangun reruntuhan yerusalem dan menjadi gubernur di Yehuda …
Semoga Tuhan pakai Nehemia baru membangun reruntuhan Nias Barat…Selamat pak, tdk semua org berani mengutarakan isi hatinya kepada publik, karena ragu2 dan takut dicemooh, apalagi mbanuada suka nyindir.
saya Doakan Tuhan menolong pak Pendeta